Hari ini aku mendengarkan seorang ibu yang curhat tentang pekerjaan seorang Advokat yang disewanya (Sebut saja advokat itu MR X) .Jadi ibu itu bercerita dia menyewa seorang MR X untuk mengurus kasus anaknya yang terlibat suatu kasus.Ibu itu sebenarnya berasal dari golongan kelas bawah,namun karena dia sangat menyayangi anaknya,akhirnya dia usahan untuk membela anaknya yang sedang terlibat kasus tersebut.Singkat cerita,persidangan itu terus berjalan,namun diakhir persidangan ternyata ibu itu sangat kecewa dengan kinerja MR X yang disewanya,ibu itu bercerita setiap sidang MR X selalu datang terlambat,dan MR X mengatakan pada setiap orang bahwa dia adalah advokat yang tidak dibayar.Padahal ibu tersebut sudah merasa membayar sekian juta rupiah untuk biaya MR X membela anaknya di sidang Pengadilan. Ternyata akhirnya anaknya tersebut divonis sekian tahun.Ibu itu sangat kecewa,karena sebagai seorang ibu dia merasa anaknya tidak bersalah.Apalagi dia merasa bahwa dia sudah membayar sekian juta rupiah.Uang untuk membayar MR X adalah hasil dari penjualan rumahnya.
Ibu itu merasa bahwa berhubungan dengan MR X malah membawa bencana baginya.Uangnya habis tapi anaknya tidak dapat dibebaskan.Karena sudah tidak mempunyai uang akhirnya ibu tersebut menerima vonis yang dijatuhkan kepada anaknya.Dia tidak mengajukan banding karena sudah tidak mempunyai biaya lagi.
Mendengar cerita ibu itu aku merasa sedih dan sedikit malu,karena aku sendiri adalah seorang advokat.Ibu itu tidak mengetahui bahwa aku berprofesi sebagai advokat,aku mengaku sedang menunggu temanku.Jadi ibu itu bebas bercerita kepadaku.Aku menjelaskan pada ibu itu bahwa tidak semua advokat bersikap seperti itu,masih banyak advokat yang jujur,yang mau menolong kliennya dengan penuh keikhlasan walaupun mungkin tidak dibayar.
Memang selama ini pandangan orang awam kepada profesi advokat beragam,ada yang ebrpandangan negative,ada yang positif dan ada yang tidak tahu. Profesi advokat berada di daerah abu-abu (grey area).Mendengarkan cerita ibu tersebut adalah salah satu cerita negatif tentang profesi advokat. Ibu tersebut memandang bahwa advokat adalah tukang peras ,mata duitan dan tidak tahu belas kasihan. Padahal itu kan hanya segelintir orang yang dinamakan sebagai oknum.Masih banyak advokat yang mempunyai idealisme untuk bertindak jujur dan sepenuh hati.